Jumat, 10 Mei 2019

Pergub Bali No 80 tahun 2018 Tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa ,Aksara dan Sastra Bali






Pengenalan Bahasa Bali 
 
Pulau Bali yang terkenal akan seribu pura ,adat istiadat, dan kebudayaannya ini, memiliki bahasa daerah yang sebagian besar digunakan oleh penduduk Bali. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju menyebabkan terjadinya permasalahan terhadap penggunaan bahasa bali oleh anak muda bali. Bahasa bali yang merupakan warisan leluhur sangat perlu dilestarikan dan dipelihara karena bahasa bali sebagai bahasa komunikasi di daerah bali, agar bahasa yang menjadi ciri khas pulau bali tidak punah begitu saja. Bahasa Bali merupakan salah satu jenis bahasa yang termasuk kelompok Bahasa Austronesia dari cabang Sundik. Bahasa Bali merupakan bahasa ibu yang dipakai oleh masyarakat Bali dan sebagian kecil penduduk di pulau Lombok Barat. Dalam sejarahnya, Bahasa Bali mendapat pengaruh dari berbagai bahasa dunia, misalnya bahasa Jawa Kuno, bahasa China, bahasa India, bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Melayu. Berbagai bahasa yang masuk dalam kebudayaan Bali tersebut memperbanyak perbendaharaan kata dalam bahasa Bali. Keharmonisan kehidupan di pulau Bali, mampu menciptakan perkembangan seni dan kebudayaan yang bagus, termasuk juga bahasa.

Tingkatan Bahasa Bali
Bahasa Bali dalam penerapannya oleh masyarakat Bali dapat dikelompokkan dalam beberapa tingkatan bahasa. Namun, secara garis besar dapat dikategorikan menjadi tiga tingkatan yaitu Bahasa Bali Alus, Bahasa Bali Madya (biasa) dan Bahasa Bali Kasar. Perbedaan tingkatan bahasa tersebut tidak terlepas dari sistem feodalisme (kerajaan) dalam sistem pemerintahan di Bali. Adapun ketiga tingkatan bahasa Bali tersebut adalah:
1. Bahasa Bali Alus
Bahasa Bali Alus adalah tingkatan bahasa yang nilai rasanya paling tinggi (halus). Bahasa Bali Alus biasanya digunakan dalam pertemuan masyarakat di desa, ceramah agama, berbincang dengan orang yang belum dikenal, berbicara kepada sulinggih (pemuka agama), ngobrol dengan kaum bangsawan, dan mengucapkan doa kepada Tuhan. Zaman sekarang, sebagian besar masyarakat Bali merasa sulit bertutur kata menggunakan bahasa Bali Alus, apalagi kaum muda-mudi karena bahasa ini jarang digunakan dalam kehidupan sehari – hari.
2. Bahasa Bali Madya
Tingkatan bahasa ini merupakan bahasa yang umumnya digunakan dalam kehidupan sehari – hari, di dalam keluarga dan komunikasi dengan sesama teman. Nilai rasa dan kesopanan dalam penggunaan bahasa ini adalah sedang (ditengah-tengah). Ini merupakan asli bahasa ibunya orang Bali, kecuali golongan bangsawan yang biasanya menggunakan Bahasa Bali Alus. Tingkatan Bahasa Bali Madya biasa dipraktikan dalam percakapan di pasar, terminal, pergaulan dengan teman, di rumah, dan di warung – warung.
3. Bahasa Bali Kasar
Bahasa Bali Kasar mempunyai nilai rasa yang paling rendah. Penggunaan kata – kata dalam Bahasa Bali Kasar biasanya digunakan untuk binatang. Jika kata “makan” dalam bahasa Indonesia bisa digunakan untuk manusia dan binatang:
Vina makan jagung.
Ayam makan jagung.

Maka, kata makan dalam bahasa Bali harus dibedakan penggunaannya:
Vina  “ngajeng” jagung
Ayam “ngamah” jagung

“Ngajeng” dan “ngamah” sama-sama bermakna makan.
selain ditujukan untuk hewan, Bahasa Bali Kasar sering digunakan tatkala dalam keadaan marah, umpatan atau bertengkar dengan tujuan merendahkan seseorang atau menyakiti perasaan dengan kata-kata kasar.

Pelestarian Bahasa Bali di era Globalisasi
Dalam usaha pelestarian bahasa bali Banyak program berbahasa Bali yang ditayangkan pada saat-saat tertentu seperti kesenian lawak, arja, babondresan, wayang dan lain-lainnya pada media saluran televisi Bali Tv. Demikian juga TVRI telah banyak menuangkan program berbahasa Bali seperti berita berbahasa Bali, kesenian Bali, dan pendidikan bahasa Bali. Berkembang pesatnya lagu pop Bali mengakibatkan pemakaian bahasa Bali lebih hidup, sehingga semua program di radio dan TV lokal saling berlomba meraup pendengar dan pemirsa. Akibat dari program ini banyak melahirkan karya berbahasa Bali yang baik yang dapat menarik perhatian generasi muda khususnya terhadap pemakaian bahasa Bali. Selama ini usaha untuk menjadikan bahasa Bali sebagai suatu kebanggaan identitas sudah dilakukan. Hal ini terlihat dari mulai adanya perhatian Pemerintah Daerah terhadap pemertahanan bahasa Bali. Pemerintah melalui lembaga yang dimilikinya seperti Lembaga Pelestarian dan Pengembangan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali dan Balai Bahasa sudah berusaha untuk menciptakan ranah-ranah baru untuk pemakaian bahasa Bali, misalnya adanya penyelenggaraan lomba berbahasa Bali, menulis Bali, menulis cerita berbahasa Bali yang diselenggarakan oleh lembaga itu secara berkesinambungan. Universitas dan lembaga-lembaga pendidikan sudah dengan terencana melalui program muatan lokal kurikulum telah pula mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang untuk kebertahan bahasa Bali. Demikian pula lembaga-labaga lainnya seperti media baik media cetak maupun media elektronik telah pula menancapkan programnya untuk keajegan bahasa Bali. Namun usaha tersebut masih dalam tataran struktural dan politis, belum merambah “akar rumput” yang merupakan basis kultural dan mengakar. Kesadaran dari pemerintah, media, dan masyarakat terhadap konsep bahasa sebagai simbol identitas masih rendah. Usaha para budayawan dan ahli bahasa belum didukung penuh oleh kebijakan strategis dan merakyat dari pemerintah. Ditambah lagi peran media yang semakin luas tidak diimbangi oleh usaha sosialisasi bahasa Bali yang baik dan benar membuat masyarakat kini lebih merespon bahasa lain seperti bahasa Indonesia maupun bahasa asing serta semakin jauh dari kaidah berbahasa Bali yang benar. Bukannya manusia Bali harus tertutup dari pengaruh nasional dan asing, namun kemampuan untuk menyaring informasi, pemakaian bahasa setiap hari, dan perilaku inilah yang menjadi pokok masalah terjadinya kegamangan identitas. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menentukan srtategi yang tepat untuk pemberdayaan dan pengembangan bahasa Bali itu. Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut:
a. Pemerintah dan masyarakat harus menentukan kebijakan tegas dalam perencanaan bahasa untuk dapat menyandingkan bahasa Bali dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing lainnya berkembang saling berdampingan dan menyentuh secara langsung terhadap pemakaian bahasa Bali.
b. Masyarakat harus menciptakan ranah pemakaian bahasa yang lebih luas, karena semakin banyak ranah pemakaian bahasa dapat diciptakan (pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknilogi informasi) akan semakin kecil kesenjangan antara kebutuhan penutur untuk mengekspresikan diri dalam berbagai aspek kehidupan.
c. Penutur bahasa Bali harus memiliki kesadaran sikap positif terhadap bahasa Bali untuk meningkatkan kesetiaan yang ditandai dengan sikap mempertahankan kemandirian bahasa, kebanggaan yang mendorong menjadikan bahasa sebagai identitas pribadi atau kelompok, sekaligus membedakannya dengan kelompok lain,, dan pemahaman pada norma pemakaian bahasa Bali yang mendorong penggunaan bahasa secara cermat, benar, dan santun. Kesadaran demikian merupakan faktor yang sangat menentukan perilaku tutur dalam wujud pemakaian bahasa .
Pelestarian bahasa bali melalui pergaulan memang sangat perlu dilakukan. Saat kita berbicara dengan teman  disekolah ataupun saat berkomunikasi dengan orang tua dirumah sebaiknya kita menggunakan bahasa bali. Meskipun terkadang kita lebih sering berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dikarenakan ada teman yang kurang mengerti jika kita berbicara menggunakan bahasa bali. Tetapi terkadang ada juga yang berkomunikasi menggunakan bahasa bali dengan teman-temannya.
Jika kita lebih sering menggunakan bahasa bali,meskipun terkadang cara pengucapannya yang berbeda tetapi kita tetap bisa menggunakan bahasa bali dalam berkomunikasi. Jika kita lebih sering melakukan komunikasi menggunakan  bahasa bali maka secara tidak langsung kita bisa menambah kosakata bahasa bali kita dan secara tidak langsung kita tidak melupakan bahasa daerah kita.
Tetapi meskipun bahasa bali digunakan dalam pergaulan, kita harus tetap menjaga gaya bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi agar kita tidak merusak keasrian dari bahasa bali itu sendiri. Pelestarian bahasa bali melalui pergaulan memang hal yang bisa dilakukan untuk melestarikan bahasa bali, selain dari kita mendapatkan pelajaran bahasa bali disekolah selama dua jam pelajaran. Walaupun terkadang kebanyakan anak muda bali berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia (termasuk saya sendiri)  tetapi setidaknya kita sebagai anak muda bali harus bisa berbahasa bali.
Jadi sebagai anak muda bali kita harus bisa melestarikan bahasa daerah kita, agar bahasa daerah yang sudah ada dan diturunkan secara turun -temurun tidak hilang begitu saja.
Jadi dari artikel di atas kita sebagai generasi penerus sebaikanya berusaha untuk terus melestarikan bahasa dan budaya daerah agar suatu saat nanti tidak hilang tergerus oleh kemajuan teknologi sekian artikel dari saya bila ada kesalahan kata atau kalimat mohon dimaafkan akhir kata saya ucapkan Terima Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar