Pengenalan Bahasa Bali
Pulau
Bali yang terkenal akan seribu pura ,adat istiadat, dan kebudayaannya ini,
memiliki bahasa daerah yang sebagian besar digunakan oleh penduduk Bali.
Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju menyebabkan terjadinya
permasalahan terhadap penggunaan bahasa bali oleh anak muda bali. Bahasa bali yang merupakan warisan leluhur sangat perlu
dilestarikan dan dipelihara karena bahasa bali sebagai bahasa komunikasi di
daerah bali, agar bahasa yang menjadi ciri khas pulau bali tidak punah begitu
saja. Bahasa Bali merupakan salah satu jenis bahasa yang termasuk kelompok Bahasa
Austronesia dari cabang Sundik. Bahasa Bali merupakan bahasa ibu yang dipakai
oleh masyarakat Bali dan sebagian kecil penduduk di pulau Lombok Barat. Dalam
sejarahnya, Bahasa Bali mendapat pengaruh dari berbagai bahasa dunia, misalnya
bahasa Jawa Kuno, bahasa China, bahasa India, bahasa Arab, bahasa Inggris,
bahasa Belanda, dan bahasa Melayu. Berbagai bahasa yang masuk dalam kebudayaan
Bali tersebut memperbanyak perbendaharaan kata dalam bahasa Bali. Keharmonisan
kehidupan di pulau Bali, mampu menciptakan perkembangan seni dan kebudayaan yang
bagus, termasuk juga bahasa.
Bahasa
Bali dalam penerapannya oleh masyarakat Bali dapat dikelompokkan dalam beberapa
tingkatan bahasa. Namun, secara garis besar dapat dikategorikan menjadi tiga
tingkatan yaitu Bahasa Bali Alus, Bahasa Bali Madya (biasa) dan Bahasa Bali
Kasar. Perbedaan tingkatan bahasa tersebut tidak terlepas dari sistem
feodalisme (kerajaan) dalam sistem pemerintahan di Bali. Adapun ketiga
tingkatan bahasa Bali tersebut adalah:
1. Bahasa Bali Alus
Bahasa Bali Alus adalah tingkatan
bahasa yang nilai rasanya paling tinggi (halus). Bahasa Bali Alus biasanya
digunakan dalam pertemuan masyarakat di desa, ceramah agama, berbincang dengan
orang yang belum dikenal, berbicara kepada sulinggih (pemuka agama), ngobrol
dengan kaum bangsawan, dan mengucapkan doa kepada Tuhan. Zaman sekarang,
sebagian besar masyarakat Bali merasa sulit bertutur kata menggunakan bahasa
Bali Alus, apalagi kaum muda-mudi karena bahasa ini jarang digunakan dalam kehidupan
sehari – hari.
2. Bahasa Bali Madya
Tingkatan bahasa ini merupakan
bahasa yang umumnya digunakan dalam kehidupan sehari – hari, di dalam keluarga
dan komunikasi dengan sesama teman. Nilai rasa dan kesopanan dalam penggunaan
bahasa ini adalah sedang (ditengah-tengah). Ini merupakan asli bahasa ibunya
orang Bali, kecuali golongan bangsawan yang biasanya menggunakan Bahasa Bali
Alus. Tingkatan Bahasa Bali Madya biasa dipraktikan dalam percakapan di pasar,
terminal, pergaulan dengan teman, di rumah, dan di warung – warung.
3. Bahasa Bali Kasar
Bahasa Bali Kasar mempunyai nilai rasa yang
paling rendah. Penggunaan kata – kata dalam Bahasa Bali Kasar biasanya
digunakan untuk binatang. Jika kata “makan” dalam bahasa Indonesia bisa
digunakan untuk manusia dan binatang:Vina makan jagung.
Ayam makan jagung.
Maka, kata makan dalam bahasa Bali harus dibedakan penggunaannya:
Vina “ngajeng” jagung
Ayam “ngamah” jagung
“Ngajeng” dan “ngamah” sama-sama bermakna makan.
selain ditujukan untuk hewan, Bahasa Bali Kasar sering digunakan tatkala dalam
keadaan marah, umpatan atau bertengkar dengan tujuan merendahkan seseorang atau
menyakiti perasaan dengan kata-kata kasar.
Pelestarian Bahasa Bali di era Globalisasi
Dalam
usaha pelestarian bahasa bali Banyak program berbahasa Bali yang ditayangkan
pada saat-saat tertentu seperti kesenian lawak, arja, babondresan, wayang dan
lain-lainnya pada media saluran televisi Bali Tv. Demikian juga TVRI telah
banyak menuangkan program berbahasa Bali seperti berita berbahasa Bali,
kesenian Bali, dan pendidikan bahasa Bali. Berkembang pesatnya lagu pop Bali
mengakibatkan pemakaian bahasa Bali lebih hidup, sehingga semua program di
radio dan TV lokal saling berlomba meraup pendengar dan pemirsa. Akibat dari
program ini banyak melahirkan karya berbahasa Bali yang baik yang dapat menarik
perhatian generasi muda khususnya terhadap pemakaian bahasa Bali. Selama ini
usaha untuk menjadikan bahasa Bali sebagai suatu kebanggaan identitas sudah
dilakukan. Hal ini terlihat dari mulai adanya perhatian Pemerintah Daerah
terhadap pemertahanan bahasa Bali. Pemerintah melalui lembaga yang dimilikinya
seperti Lembaga Pelestarian dan Pengembangan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali
dan Balai Bahasa sudah berusaha untuk menciptakan ranah-ranah baru untuk
pemakaian bahasa Bali, misalnya adanya penyelenggaraan lomba berbahasa Bali,
menulis Bali, menulis cerita berbahasa Bali yang diselenggarakan oleh lembaga
itu secara berkesinambungan. Universitas dan lembaga-lembaga pendidikan sudah
dengan terencana melalui program muatan lokal kurikulum telah pula
mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang untuk kebertahan bahasa Bali.
Demikian pula lembaga-labaga lainnya seperti media baik media cetak maupun
media elektronik telah pula menancapkan programnya untuk keajegan bahasa Bali.
Namun usaha tersebut masih dalam tataran struktural dan politis, belum merambah
“akar rumput” yang merupakan basis kultural dan mengakar. Kesadaran dari pemerintah,
media, dan masyarakat terhadap konsep bahasa sebagai simbol identitas masih
rendah. Usaha para budayawan dan ahli bahasa belum didukung penuh oleh
kebijakan strategis dan merakyat dari pemerintah. Ditambah lagi peran media
yang semakin luas tidak diimbangi oleh usaha sosialisasi bahasa Bali yang baik
dan benar membuat masyarakat kini lebih merespon bahasa lain seperti bahasa
Indonesia maupun bahasa asing serta semakin jauh dari kaidah berbahasa Bali
yang benar. Bukannya manusia Bali harus tertutup dari pengaruh nasional dan
asing, namun kemampuan untuk menyaring informasi, pemakaian bahasa setiap hari,
dan perilaku inilah yang menjadi pokok masalah terjadinya kegamangan identitas.
Yang perlu kita lakukan sekarang
adalah menentukan srtategi yang tepat untuk pemberdayaan dan pengembangan
bahasa Bali itu. Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh adalah sebagai
berikut:
a. Pemerintah dan masyarakat harus
menentukan kebijakan tegas dalam perencanaan bahasa untuk dapat menyandingkan
bahasa Bali dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing lainnya berkembang saling
berdampingan dan menyentuh secara langsung terhadap pemakaian bahasa Bali.
b. Masyarakat harus menciptakan
ranah pemakaian bahasa yang lebih luas, karena semakin banyak ranah pemakaian
bahasa dapat diciptakan (pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknilogi informasi)
akan semakin kecil kesenjangan antara kebutuhan penutur untuk mengekspresikan
diri dalam berbagai aspek kehidupan.
c. Penutur bahasa Bali harus
memiliki kesadaran sikap positif terhadap bahasa Bali untuk meningkatkan
kesetiaan yang ditandai dengan sikap mempertahankan kemandirian bahasa,
kebanggaan yang mendorong menjadikan bahasa sebagai identitas pribadi atau
kelompok, sekaligus membedakannya dengan kelompok lain,, dan pemahaman pada
norma pemakaian bahasa Bali yang mendorong penggunaan bahasa secara cermat,
benar, dan santun. Kesadaran demikian merupakan faktor yang sangat menentukan
perilaku tutur dalam wujud pemakaian bahasa .
Pelestarian bahasa bali melalui pergaulan
memang sangat perlu dilakukan. Saat kita berbicara dengan teman disekolah
ataupun saat berkomunikasi dengan orang tua dirumah sebaiknya kita menggunakan
bahasa bali. Meskipun terkadang kita lebih sering berkomunikasi menggunakan
bahasa Indonesia dikarenakan ada teman yang kurang mengerti jika kita berbicara
menggunakan bahasa bali. Tetapi terkadang ada juga yang berkomunikasi
menggunakan bahasa bali dengan teman-temannya.Jika kita lebih sering menggunakan bahasa bali,meskipun terkadang cara pengucapannya yang berbeda tetapi kita tetap bisa menggunakan bahasa bali dalam berkomunikasi. Jika kita lebih sering melakukan komunikasi menggunakan bahasa bali maka secara tidak langsung kita bisa menambah kosakata bahasa bali kita dan secara tidak langsung kita tidak melupakan bahasa daerah kita.
Tetapi meskipun bahasa bali digunakan dalam pergaulan, kita harus tetap menjaga gaya bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi agar kita tidak merusak keasrian dari bahasa bali itu sendiri. Pelestarian bahasa bali melalui pergaulan memang hal yang bisa dilakukan untuk melestarikan bahasa bali, selain dari kita mendapatkan pelajaran bahasa bali disekolah selama dua jam pelajaran. Walaupun terkadang kebanyakan anak muda bali berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia (termasuk saya sendiri) tetapi setidaknya kita sebagai anak muda bali harus bisa berbahasa bali.
Jadi sebagai anak muda bali kita harus bisa melestarikan bahasa daerah kita, agar bahasa daerah yang sudah ada dan diturunkan secara turun -temurun tidak hilang begitu saja.
Jadi dari artikel di atas kita sebagai generasi penerus sebaikanya berusaha untuk terus melestarikan bahasa dan budaya daerah agar suatu saat nanti tidak hilang tergerus oleh kemajuan teknologi sekian artikel dari saya bila ada kesalahan kata atau kalimat mohon dimaafkan akhir kata saya ucapkan Terima Kasih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar