Penggunaan Busana Adat Bali Generasi Milenial
Pada saat ini globalisasi sangat
mempengaruhi zaman. Segala aspek kehidupan menjadi berubah akibat dari arus
globalisasi dan kemajuan teknologi. Termasuk gaya hidup yang suka
kebarat-baratan, mulai dari sikap, bicara, maupun dalam berbusana. Salah satu
perubahan yang paling mencolok adalah soal penampilan (gaya pakaian). Gaya
pakaian menjadi salah satu hal yang sangat mempengaruhi kepribadian seseorang
di era globalisasi saat ini.
Mantra (1996 : 1-2) mengemukakan, Globalisasi
merupakan gejala yang tak dapat dihindarkan, tetapi sekaligus juga membuka
kesempatan yang luas. Globalisasi telah membawa kemajuan besar dan
perubahan-perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat Bali, khususnya umat
Hindu yaitu terjadinya benturan kultur. Sekarang ini globalisasi bukan
merupakan hal yang baru dibicarakan. Tekanan dari globalisasi yang menjadi
tantangan terbesar saat ini harus dicarikan solusi. Banyak generasi muda
yang kurang memahami dan juga ada yang tidak mau memahami tentang etika
dalam berpakaian ke Pura. Banyak dari meraka terutama kaum perempuan yang
memakai model baju kebaya (baju atasan yang sering dikenakan para wanita dalam
persembahyangan ke Pura) yang kurang sesuai. Pada dasarnya berbusana tentu akan
lebih baik jika disesuaikan dengan aktifitas / kegiatan yang akan dilakukan.
Wanita sering kita jumpai mengenakan kebaya dengan bahan transparan dengan kain
bawahan (kamen) bagian depan hanya beberapa cm dibawah lutut bahkan ada juga
yang menggenakan kamen dengan belahan sampai diatas lutut untuk melakukan
persembahyangan. Kita seharusnya mengetahui bahwa pikiran setiap manusia tentu
tidak sama, ada yang berpikir positif bahwa itulah trend mode masa
kini. Tapi ada yang berpikiran negatif tentu tidak sedikit, inilah
permasalahanya bagi orang yang mempunyai pikiran negatif, paling tidak
busana terbuka akan mempengaruhi kesucian pikiran umat lain yang melihatnya
sehingga mempengaruhi konsentrasi persembahyangan. Sejak dahulu hingga sekarang
busana adat ke pura selalu berubah sesuai perkembangan jaman. Seharusnya dalam
menggunakan busana adat kepura terutama untuk persembahyangan harus sesuai
dengan tata cara yang berlaku. Namun dewasa ini para umat Hindu terutama para
remaja dalam menggunakan busana adat sudah tidak sesuai dengan aturan.
Hal ini bisa terjadi karena pola
pikir masyarakat. Mereka tidak mengerti akan makna dari busana adat Bali
tersebut. Untuk itu agar tidak terus-menerus keliru, perlu adanya pemberitahuan
kepada masyarakat secara umum tentang tatwa dalam berbusana adat Bali.
Sehingga masyarakat menjadi lebih paham dang mengerti makna-makna yang
terkandung dalam busana adat kepura.
Konsep Ajaran Tri Angga Dalam
Berbusana Ke Pura
Manusia sebenarnya sudah terlahir sebagai makhluk yang suci.
Jadi sebenarnya secara logika, kita sembahyang telanjang bulat pun tidak
masalah. Lalu mengapa harus berbusana? pakaian itu diciptakan dengan tujuan
untuk menutupi badan, dan baju merupakan salah satu bagian dari alat upacara.
Manusia menciptakan sarana upakara dengan tujuan kita bisa lebih memahami
ajaran agama kita. Dasar konsep dari Busana adat Bali adalah konsep tapak dara
(swastika). Tubuh manusia dibagi menjadi tiga yang disebut dengan Tri Angga,
yang terdiri dari:
1. Dewa Angga : dari
leher ke kepala
2. Manusa angga : dari
atas pusar sampai leher
3. Butha Angga : dari
pusar sampai bawah
Pada saat manusia tidak berbusana
adat, tubuh manusia masih suci, belum dibagi-bagi menurut konsep Tri Angga
berlaku. Konsep ini baru terbentuk ketika manusia sudah berbusana adat.
Sebenarnya tidak ada lontar-lontar yang menunjukkan tentang busana adat Bali.
Secara umum busana adat Bali dibagi tiga yaitu:
1. Busana adat Nista :
digunakan sehari, ngayah, dan tidak digunakan untuk persembahyangan (busana
adat yang belum lengkap)
2. Busana adat Madya :
digunakan untuk persembahyangan (secara filosofis sudah lengkap)
3. Busana adat Agung :
untuk upacara pernikahan/pawiwahan (sedah lengkap secara aksesoris)
Perkembangan busana adat ke Pura
remaja Hindu dalam era globalisasi
Pengertian busana (pakaian) dalam
arti luas adalah suatu benda kebudayaan yang sangat penting untuk hampir semua
suku bangsa di dunia. Pakaian adalah menyimbolkan manusia, sebuah
topeng dan suatu petunjuk tentang jabatan, tingkat, status, tetapi bukan
identifikasi dengan suatu bagian dari pengada hakiki (Dilistone :
2002:80).
Pada zaman sekarang ini kurangnya minat
generasi muda (yowana) khususnya dari kalangan gadis untuk
memakai tata rias rambut model sanggul, termasuk menatanya dengan model pepusungan, juga
amat jarang ditemukan. Umumnya kalangan wanitanya, lebih banyak menata
rambutnya dengan cara membiarkan rambutnya terurai (megambahan), baik
dengan potongan rambut pendek ataupun rambut panjang. Mereka juga biasanya
menggunakan berbagai jenis ikatan di bagian belakang seperti gelang karet, ada
juga yang menggunakan pita pengikat atau bando dengan
variasi hiasan warna-warni. Sedangkan untuk kalangan prianya, dalam tata rias
rambut, mereka cenderung tampil apa adanya tanpa sentuhan penataan salon
kecantikan. Hanya saja karena terpengaruh model barat cukup
banyak anak-anak muda yang menyisir rambutnya dengan model acak-acakan supaya
terlihat lebih keren dan juga mengikuti perkembangan zaman Bukan berarti agama
Hindu menolak modernisasi atau menolak modifikasi, namun sebagai penganut agama
Hindu yang benar harus bisa menempatkan dimana seharusnya modernisasi dan
modifikasi itu ditempatkan, kalau tidak begitu bila semua berpakaian modifikasi
sampai pemangku bermodifikasi bagaimana jadinya suasana di pura Adapun
contoh-contoh perubahan busana adat kepura diera globalisasi sekarang seperti :- Pemakaian baju kebaya/brokat bagi busana wanita menjadi lebih transfaran, modis dan memakai lengan pendek.
- Pemakaian kamben/kain bagi busana wanita sedikit lebih tinggi atau diatas lulut.
- Pemakaian asesoris yang berlebihan sehingga terkesan modis dan mahal seperti bross, hiasan kepala.
- Pemakaian udeng/destar bagi busana laki-laki yang tidak benar, tidak memiliki ikatan ujung udeng menghadap keatas.
- Pemakaian kamen/kain bagi busana laki-laki yang tidak memiliki kancut (ujungnya lancip menyentuh tanah) dan ada juga yang memakai kamen model sarung yang bukan termasuk busana kepura.
- Pemakaian tinggi saput dan jarak kamben bagi busana laki-laki yang salah biasanya sejengkal dari mata kaki.
- Pemakaian sanggul yang salah, gadis memakai pusung tagel dan wanita yang sudah berkeluarga memakai pusung gonjer atau bahkan dengan rambut terurai.
Perkembangan
Busana Adat Kepura Remaja Hindu Di Era Globalisasi
Seharusnya umat hindu ketika datang tangkil ke
Pura sepatutnya terlebih dahulu membersihkan diri secara fisik, disertai juga
penyucian pikiran serta penampilan dalam balutan busana/pakaian yang bersih,
rapi, dan sopan.Berikut merupakan tata cara berbusana adat kepura yang benar:
· Busana
adat ke Pura untuk putra
Dalam menggunakan busana adat Bali
diawali dengan menggunakan kamen. Lipatan kain/kamen (wastra) putra melingkar
dari kiri ke kanan karena laki-laki merupakan pemegang dharma. Tinggi kamen
putra kira-kira sejengkal dari telapak kaki karena putra sebagai penanggung
jawab dharma harus melangkah dengan panjang. Tetapi harus tetap melihat tempat
yang dipijak adalah dharma. Pada putra menggunakan kancut (lelancingan) dengan
ujung yang lancip dan sebaiknya menyentuh tanah (menyapuh jagat), ujungnya yang
kebawah sebagai symbol penghormatan terhadap Ibu Pertiwi. Kancut juga merupakan
symbol kejantanan. Untuk persembahyangan, kita tidak boleh menunjukkan
kejantanan kita, yang berarti pengendalian, tetapi pada saat ngayah kejantanan
itu boleh kita tunjukkan. Untuk menutup kejantanan itu maka kita tutup dengan
saputan (kampuh). Tinggi saputan kira-kira satu jengkal dari ujung kamen.
Selain untuk menutupi kejantanan, saputan juga berfungsi sebagi penghadang
musuh dari luar. Saput melingkar berlawanan arah jarum jam (prasawya). Kemudian
dilanjutkan dengan menggunakan selendang kecil (umpal) yang bermakna kita sudah
mengendalikan hal-hal buruk. Pada saat inilah tubuh manusia sudah terbagi dua
yaitu Butha Angga dan Manusa Angga. Penggunaan umpal diikat menggunakan simpul
hidup di sebelah kanan sebagai symbol pengendalian emosi dan menyama. Pada saat
putra memakai baju, umpal harus terlihat sedikit agar kita pada saat kondisi
apapun siap memegang teguh dharma. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan baju
(kwaca) dengan syarat bersih, rapi dan sopan. Baju pada busana adat terus
berubah-rubah sesuai dengan perkembangan. Pada saat ke pura kita harus
menunjukkan rasa syukur kita, rasa syukur tersebut diwujudkan dengan
memperindah diri. Jadi, pada bagian baju sebenarnya tidak ada patokan yang
pasti. Kemudian dilanjutkan dengan penggunakan udeng (destar). Udeng secara
umum dibagi tiga yaitu udeng jejateran (udeng untuk persembahyangan), udeng
dara kepak (dipakai oleh raja), udeng beblatukan (dipakai oleh pemangku). Pada
udeng jejateran menggunakan simpul hidup di depan, disela-sela mata. Sebagai
lambing cundamani atau mata ketiga. Juga sebagi lambang pemusatan pikiran.
Dengan ujung menghadap keatas sebagai symbol penghormatan pada Sang Hyang Aji
Akasa. Udeng jejateran memiliki dua bebidakan yaitu sebelah kanan lebih tinggi,
dan sbelah kiri lebih rendah yang berarti kita harus mengutamakan Dharma.
Bebidakan yang dikiri symbol Dewa Brahma, yang kanan symbol Dewa Siwa, dan
simpul hidup melambangkan Dewa Wisnu Pada udeng jejateran bagian atas kepala
atau rambut tidak tertutupi yang berarti kita masih brahmacari dah masih
meminta. Sedangkan pada udeng dara kepak, masih ada bebidakan tepai ada
tambahan penutup kepala yang berarti symbol pemimpin yang selalu melindungi
masyarakatnya dan pemusatan kecerdasan. Sedangkan pada udeng beblatukan tidak
ada bebidakan, hanya ada penutup kepala dan simpulnya di blakan dengan diikat
kebawah sebagai symbol lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan
pribadi.
· Busana
adat ke Pura untuk putri
Sama seperti busana adat putra,
pertama diawali dengan menggunakan kamen. Lipatan kain/kamen melingkar dari
kanan ke kiri karena sesuai dengan konsep sakti. Putri sebagai sakti bertugas
menjaga agar si laki-laki tidak melenceng dari ajaran dharma. Tinggi kamen
putri kira-kira setelapak tangan karena pekerjaan putri sebagai sakti itu
sangat banyak jadi putri melangkah lebih pendek. Setelah menggunakan kamen
untuk putri memakai bulang yang berfungsi untuk menjaga rahim, dan mengendalikan
emosi. Pada putri menggunakan selendang/senteng dikiat menggunakan simpul hidup
di kiri yang berarti sebagai sakti dan mebraya. Putri memakai selendang di
luar, tidak tertutupi oleh baju, agar selalu siap membenahi putra pada saat
melenceng dari ajaran dharma. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan baju
(kebaya) dengan syarat bersih, rapi, dan sopan. Penggunaannya sama seperti baju
pada putra. Kemudian dilanjutkan dengan menghias rambut. Pada putri rambut
dihias dengan pepusungan. Secara umum ada tiga pusungan yaitu pusung gonjer
untuk putri yang masih lajang/belum menikah sebagai lambang putri tersebut
masih bebas memilih dan dipih pasangannya. Pusung gonjer dibuat dengan cara
rambut di lipat sebagian dan sebagian lagi di gerai. Pusung gonjer juga sebagai
symbol keindahan sebagai mahkota dan sebagai stana Tri Murti. Yang kedua adalah
pusung tagel adalah untuk putri yang sudah menikah. Dan yang ketiga adalah
pusung podgala/pusung kekupu. Biasanya dipakai pleh peranda istri. Ada tiga
bunga yang di pakai yaitu cempaka putih, cempaka kuning, sandat sebagai lambing
dewa Tri Murti.
Penyebab dan Dampak Perubahan Gaya
busana adat kepura diera globalisai
penyebab dari perubahan trend busana adat
kepura bagi umat Hindu adalah :
- Banyaknya selebritis dan para model memakai bahan-bahan budaya bali yang dipakai sampel model atau desain terbaru untuk dimodifikasi.
- Dari adanya modifikasi yang dipakai model atau selebretis menjadi banyak yang ditiru oleh umat agama Hindu untuk busana kepura biar lebih modern.
- Adanya kombinasi atau perpaduan model busana barat dan busana local yang menjadi trend terbaru dalam berbusana.
- Berkembangnya pariwisata bali terutama orang-orang suka dengan budaya dan busana bali sehingga banyak menjadi barang dagangan untuk para tusis-turis yang dating kebali.
- Berkembangnya trend (Fashion) busana-busana modern dari luar yang dapat mempengaruhi busana adat kepura sehingga dilihat menjadi lebih modis.
- Banyaknya umat Hindu (para remaja) yang mengikuti perkembangan fashion/trend terbaru dari berbagai gaya busana. Seperti kebaya, kamen dan pakaian lainnya.
Adapun dampak yang terjadi bagi umat
hindu dari adanya perubahan seni berbusana diera globalisasi antara lain :
- Kurangnya kesadaran terhadap tatwa atau filosofi yang terkandung dari symbol-simbol busana adat kepura umat Hindu.
- Adanya penyimpangan etika dalam berbusana, seperti banyak busana contohnya : kebaya yang tarnsfaran dan pemakaian kamen terlalu tinggi (diatas lutut).
- Adanya pikiran-pikiran kotor dipura yang diakibatkan pakaian yang kurang sopan terutama bagi laki-laki yang tidak bisa mengontrol diri melihat busana yang tranfaran dan terlalu vulgar.
- Mengganggu kenyamanan saat sembahyang, dari bahan yang terlalu bervariasi dan gaya yang sedikit ketat.
- Adanya persaingan busana dikalangan ibu-ibu yang lagi sembahyang akibat berkembangnya terus fashion atau model-model terbaru, sehingga dapat menimbulkan kesenjangan dan merasa jengah dalam berbusana.
Dari uraian diatas itulah tahapan-tahapan
kita dalam menggunakan busana adat. Dengan mebaca uraian diatas hendaknya kita
bisa mewujudkan hal itu. Karena jika kita sudah memahami yang benar dan tidak
melaksakannya kita akan berdosa. Dan jika anda tahu salah dan tidak
memperbaikinya dosanya akan bertambah besar. Dengan memahami cara berbusana
adat ke pura yang benar, setidaknya kita bisa menjadi umat Hindu yang baik.
Uraian diatas silahkan ditiru atau tidak karena agama tidak pernah memaksaan
umatnya. Sekarang silahkan turuti kata hati anda.Jika ada kesalahan kata atau
kalimat saya mohon maaf sekian artikel ini semoga bisa bermanfaat sekian dan
Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar